Kemana Mas Gepeng?
Mas Gepeng adalah panggilan akrab kami sekeluarga kepada ojek langganan, jemputan sekolah Abin. Nama sebenarnya adalah … maaf saya lupa. Saya yakin namanya itu bagus, karena suami pernah komentar ke mas gepeng, kok nama bagus diganti. Kalau mau bersikeras pengen tau, nanti saya tanyakan kepada Abin, karena dia pernah mengintip nama mas Gepeng di KTPnya yang jatuh. *Jeli deh matamu Bin…*
Kalau dihitung, sudah satu tahun lebih beliau menjalani profesinya mengantar dan menjemput Abin di sekolah. Performancenya cukup baik. Karena kalau tidak baik, tentu beliau akan digantikan dengan ojek lain. Jangan salah, menurut saya menjadi ojek sekolah untuk Abin adalah suatu keberuntungan tersendiri. Sepertinya jarang sekali ojek yang dibayar dengan gaji bulanan yang jauh lebih besar dibanding SPP sekolah anak itu sendiri. Gaji mas Gepeng, nilainya dua kali lipat dari jemputan mobil teman-teman dekat rumah Abin. Tentu mahal karena jarak sekolah Abin itu jauh.
Kadang kala, jika beliau berhalangan datang, beliau akan digantikan oleh adiknya yang sudah bekerja di kantor kelurahan, tetapi dengan bersenang hati mengantarkan atau menjemput Abin. Siiip kan? Biarpun terkadang ketika menjemput atau mengantar beliau terlambat datang, namun setelah ditegur, beliau akan datang tepat waktu keesokan harinya. Kami juga gembira ketika mendengar bahwa dia mengambil kredit motor. Ya bagus dong, buat ganti motor lamanya.
Tetapi kemudian timbul masalah berkaitan dengan motor baru ini. Well, motor ini memang motor baru dimiliki, tetapi ternyata motor yang dibeli oleh Mas Gepeng adalah motor 2nd. Motor ini ternyata lebih parah dari motor sebelumnya. Hal ini sudah menjadi pengetahuan umum bahwa motor 2nd adalah motor yang sering diambil bagian sparepartnya oleh pemilik lama. Motor mogok mengakibatkan kinerja Mas Gepeng menurun. Beliau sering menelpon suami, mengatakan bahwa beliau tidak bisa menjemput. Walhasil, tugas ini digantikan oleh suami.
Puncaknya adalah menjelang ujian. Seorang staf sekolah menelpon suami mengatakan bahwa Abin belum dijemput, padahal jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Abin sudah menangis sedih karena tidak ada yang menjemput. Ayah akhirnya menjemput abin yang sudah bersimbah air mata
Kejadian ini berulang sampai hari bagi rapor. Suami sudah bertanya kepada ojek-ojek yang ada di pangkalan, apakah ada yang melihat Mas Gepeng. Ternyata tidak ada yang bertemu. Puncaknya adalah tadi pagi, ketika saya naik ojek lain untuk mengantar Abin kursus tahfidz. Si abang ojek bertanya apakah sudah mendengar kabar tentang Gepeng? Saya tentu menjawab belum. Ternyata minggu lalu, istrinya pun datang ke pangkalan ojek untuk mencari suaminya. Nah, kamu kemana Mas Gepeng?
